Ketika seorang sahabat sejati bertanya kepada sahabatnya, “apakah aku pernah melakukan salah padamu?“.
Sahabatnya akan menjawab, “ya, tapi aku sudah melupakan kesalahanmu“.
Ketika seorang sahabat sejati berbalik bertanya kepada sahabatnya, “apakah aku pernah bersalah padamu?“.
Sahabatnya akan menjawab, “ya, tapi aku sudah lupa akan hal itu“.
Ketika seorang bertanya, “Apa yang telah kau lakukan untuk sahabatmu?“
Seorang sahabat akan menjawab, “Aku tidak tahu.” sebab seorang sahabat tidak pernah meminta imbalan dari apa yang telah di perbuatnya dengan tulus.
Ketika seorang sahabat sejati memarahi sahabatnya, dan sahabatnya bertanya, “mengapa kamu memarahiku?“
Sahabatnya akan menjawab, “demi kebaikanmu“.
Ketika seseorang bertanya, “apakah alasanmu menjadi sahabatnya?“
Ia akan menjawab, “tidak tahu“. Sebab sahabat yang sejati tidak pernah memanfaatkan, tidak pernah memandang kelemahan dan kelebihan.
Ketika kau jatuh, ia akan berusaha menopangkan tangannya supaya kau tidak tergeletak.
Ketika kau bersuka, ia akan berada disisimu dan turut merasakan kebahagiaanmu.
Ketika kau berduka, ia akan berada disampingmu, meskipun ia tidak tahu bagaimana cara menghiburmu. Tetap mendengarkanmu, mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulutmu, meskipun kau hanya mengaduh dan meskipun ia tidak tahu bagaimana solusi masalahmu.
Ketika kau mengatakan cita – citamu, ia akan mendukung dan berdoa untukmu.
Ketika ia bersuka, kau juga akan bersuka karenanya.
Ketika ia berduka, kau yang ada di sampingnya.
Sahabat adalah memberi tanpa ada maksud di belakangnya, bukan hanya menerima.
Sahabat tidak pernah membungkus racun dengan permen manis.
Persahabatan tidak diukur oleh berapa lamanya waktu, tetapi berapa besar arti ‘persahabatan’ itu sendiri.
Persahabatan tidak diukur oleh materi, tetapi berapa besar pengorbanan.
Persahabatan tidak diukur dari kesuksesan yang di peroleh, tetapi dari berapa besar dukungan yang di berikan.
Ia dapat menyayangimu, bahkan lebih dari dirinya sendiri.
Persahabatan tidak pernah mulus. Tetapi yang membuat indah adalah ketika mereka berhasil menjalaninya bersama, meskipun harus melalui pertumpahan air mata.
Hal yang paling membuat sahabatmu sedih adalah ketika kamu, sebagai seorang sahabat, membohonginya dengan alasan apapun. Sebab ia sangat percaya padamu.
Hanya satu yang sahabatmu minta kepadamu : supaya ia menjadi bagian hidupmu.
Rabu, 16 Februari 2011
Senin, 14 Februari 2011
Hanya Ada Sepenggal Memori Tentangmu
Hujan deras mengguyur sore ini...entah kenapa setiap kali melihat hujan aku selalu merasa sedih,mungkin karena hujan yang turun menggambarkan tetes airmata yang jatuh setiap kali aku mengingatmu.Entah apa yang sedang kamu lakukan saat ini,yang jelas aku cukup bahagia bisa melihatmu meskipun hanya dari jauh.Setahun yang lalu,setahun yang penuh dengan airmata,setahun yang begitu kejam menghempasku dalam jurang yang paling dalam,membuatku tak tau lagi indahnya hidup.Hidup bagai dalam kehampaan,kosong...dan aku????aku hanya seperti mayat hidup karena mengalami sakitnya dicampakkan.
Kalau saja bisa memilih,aku hanya ingin amnesia,agar tidak ada lagi sakit ini,luka ini.Andai ada 1 cara saja agar aku bisa melupakanmu,itu akan kulakukan.Aku hidup dalam kebingungan,antara membencimu dan masih mencintaimu.Tidakkah kau ingat Radit,saat berulang kali kamu mengungkapkan perasaanmu padaku dan aku selalu menolaknya???Bukan karena aku tidak mencintaimu,tapi saat itu aku berpikir akan lebih baik kita bersahabat saja.Hingga saat itu....ah aku menyesal kenapa memberimu kesempatan.
(11 bulan yang lalu)
Jes,gimana kelanjutan hubunganmu sama Radit?apa dia masih mengejarmu sampai saat ini?tanya Linda.Yup lin,aku sejujurnya bingung,bagiku Radit adalah orang yang sangat baik,tapi aku hanya menganggapnya teman dan dalam kondisi seperti ini,aku benar-benar bingung harus bagaimana.Hmm menurutku sih,ga ada salahnya kamu memberi dia kesempatan,kalo memang kamu ga punya perasaan sama dia cobalah untuk menyanyanginya.Ga segampang itu Lin,aku juga ga mau nyakiti dia dengan harapan kosong yang aku berikan.Hmm kalo memang begitu,kamu harus mulai menjaga jarak darinya sehingga dia tidak berharap banyak padamu lagi.
Pembicaraan sore itu membuatku berpikir sepanjang malam dan akhirnya aku berpikir apa salahnya kalo mencoba.Dit,sudah kupikirkan sepanjang malam dan aku memutuskan untuk memberimu kesempatan mendekatiku.Wow,makasih ya Jess,aku janji akan berusaha untuk membuatmu jatuh cinta kepadaku,aku ga akan pernah mengecewakanmu dan meninggalkanmu.
(saat menjadi panitia reuni kampus)
Jess,mungkin saat ini bukan saat yang romantis seperti yang kamu harapkan,tapi saat ini aku mau bilang kalo aku sayang sama kamu dan aku ingin kamu jadi pacarku,maukah kamu????Aku terdiam untuk sesaat,sepertinya usaha kerasku mulai membuahkan hasil,ya tiba-tiba saja hatiku berdegup dengan kencang dan aku merasa pipiku sudah seperti kepiting rebus yang merona merah,aku tak bisa berkata-kata lagi,dan aku hanya mengangguk.Kupikir aku mulai menyukainya.
Sepulang dari reuni,segaris lengkung di bibirku sepertinya terus terpampang,dan aroma-aroma kembang menghiasi hatiku.Inikah pertanda aku mulai jatuh cinta padanya???Ya aku akan berusaha memberi yang terbaik,hanya untuknya.
(seminggu....tak ada masalah)
(sebulan berlalu......Radit mulai sibuk dengan kegiatan kampusnya dan aku mulai kesepian.Dia yang biasanya selalu menelpon sekarang menjadi jarang,dan kami pun sering bertengkar.Sebenarnya yang menjadi masalah adalah kami butuh penyesuaian diri,dan aku selalu berusaha menunjukkan sikap \'ngambek\'ku padanya.Aku ga berpikir dengan 1 sifat itu,akan membuatku terhempas sendiri dalam penyesalan)
Jess,aku rasa lebih baik kita berteman saja,karena aku tidak mau terus bertanya-tanya apakah aku benar-benar mencintaimu.Jujur aku benci dengan sikapmu yang terlalu kekanak-kanakan,yang membuat kita tiada hari tanpa bertengkar.Aku capek Jess,setiap orang pun punya batas kesabaran.Kata-kata Radit barusan seperti petir di siang bolong,aku bahkan nyaris ga percaya dengan pendengaranku.Lebih dari 3 bulan yang lalu dia mengejarku dengan gigihnya,dan ketika aku memberikan kesempatan untuknya,berusaha keras untuk mulai mencintainya dan sekarang aku benar-benar tulus mencintainya,dia mencampakkanku begitu saja????Kenapa?kenapa?kenapa? terlalu banyak pertanyaan yang bahkan aku ga sanggup untuk memikirkannya.Aku bahkan memohon padamu untuk memperbaiki kesalahanku,hanya 1 kesempatan saja,karena selama ini kamu tidak pernah mengatakan apa yang tidak kamu sukai dariku,tapi,1 kesempatanpun tak kamu berikan.Bahkan dengan santainya kamu bilang kamu tidak mencintaiku lagi....
Masih kuingat kau sempat tersenyum dan memberikan lambaian perpisahan yang terakhir saat aku melangkah pergi karena gagal memohon 1 kesempatan darimu,tidakkah kamu berpikir bahwa kamu sungguh kejam???Dengan sisa-sisa tenaga yang ada,dan masih syok dengan semua kata-katamu,aku berusaha berjalan tertatih hingga tiba di kamar,hanya dengan wajah yang pucat pasi dan bahkan tak ada airmata.Aku mulai mendirikan tembok,dimana aku tidak merasakan apa-apa lagi,baik itu sakit,sedih,kecewa....
Masih tak percaya,aku bahkan belum pacaran 2 bulan denganmu.Secepat itu kamu bilang cinta padaku dan secepat itu kamu mencampakanku???????Padahal aku sudah mempersiapkan hadiah untuk Valentine bersamamu...Terkadang,hati yang dibuat terlalu sakit akan membuatmu mendirikan tembok yang kokoh dimana tidak ada yang bisa menghancurkannya bahkan oleh suatu kesedihan sekalipun,dan itu yang aku rasakan.Kemarin untuk pertama kalinya aku dan kamu bertemu,berpapasan dan kita hanya lewat begitu saja tanpa bertegur sapa.
Kejadian itu sudah hampir berlalu setahun yang lalu,awal-awalnya begitu sulit bagiku untuk terus melanjutkan hidupku,aku ga bisa membayangkan hidupku tanpamu,tapi sekarang aku sudah bisa menerima semuanya,dan aku hanya berharap kamu akan bahagia dengan pengganti diriku nanti.Semua yang telah berlalu,mengajarkanku banyak hal dan membuatku lebih dewasa.Pertama,Cinta tak harus memiliki,meskipun aku dan kamu sudah tak bersama lagi,aku masih mencintaimu seperti dulu,tapi aku tetap menerima kenyataan bahwa kamu mungkin memang lebih baik dengan orang lain,kamu akan lebih bahagia dibanding denganku.Kedua,cinta butuh keterbukaan.Apapun yang kita suka ataupun tidak suka,katakanlah sejujurnya pada pasanganmu,percayalah,dia akan bisa menerima kejujuranmu dan mencoba untuk memperbaikinya.Ketiga,cinta itu sabar dan setia.Tak peduli kamu sudah menyakiti sesakit apapun,cinta akan tetap ada dan takkan berubah.
Hari ini,tepat setahun yang lalu,ditempat ini gedung ini,aku berdiri seorang diri,mengenangmu.Aku hanya tersenyum membayangkan ekspresi wajahku yang tersipu malu dan begitu bahagia saat itu.Andai aku bisa kembali ke kejadian setahun yang lalu,tapi penyesalanpun takkan berguna.Penyesalahpun tak akan merubah apapun,dan aku hari ini seorang Jessica tetap berdiri sendiri.Aku menunggumu semalaman, masih ada sedikit harapan,berharap kamu ingat hari ini,tempat ini,tapi kamu tidak kunjung datang.Aku berjanji akan selalu datang setiap tahunnya ke tempat indah ini untu mengingat semua kisah kita.
Kini kembali aku harus bangun dari dunia lamunanku,kembali ke dunia nyata dimana aku harus hadapi semuanya.Banyak hal yang indah maupun buruk terjadi dalam hidupku,tapi semua yang kualami denganmu masih teringat sangat jelas,tak ada yang terlupakan,dan kini ku sadari kalau semua ini hanya bagian dari pahit manisnya hidup.Radit,terimakasih untuk semuanya,aku tak pernah membencimu,dan aku masih disini untukmu,aku masih mencintaimu seperti dulu,tak ada yang berubah,tak peduli sesadis apa kamu pernah meninggalkanku.Sepi hari-hariku disini tanpamu.Sekarang hanya ada aku,dan hanya ada sepenggal memori tentangmu....
Kalau saja bisa memilih,aku hanya ingin amnesia,agar tidak ada lagi sakit ini,luka ini.Andai ada 1 cara saja agar aku bisa melupakanmu,itu akan kulakukan.Aku hidup dalam kebingungan,antara membencimu dan masih mencintaimu.Tidakkah kau ingat Radit,saat berulang kali kamu mengungkapkan perasaanmu padaku dan aku selalu menolaknya???Bukan karena aku tidak mencintaimu,tapi saat itu aku berpikir akan lebih baik kita bersahabat saja.Hingga saat itu....ah aku menyesal kenapa memberimu kesempatan.
(11 bulan yang lalu)
Jes,gimana kelanjutan hubunganmu sama Radit?apa dia masih mengejarmu sampai saat ini?tanya Linda.Yup lin,aku sejujurnya bingung,bagiku Radit adalah orang yang sangat baik,tapi aku hanya menganggapnya teman dan dalam kondisi seperti ini,aku benar-benar bingung harus bagaimana.Hmm menurutku sih,ga ada salahnya kamu memberi dia kesempatan,kalo memang kamu ga punya perasaan sama dia cobalah untuk menyanyanginya.Ga segampang itu Lin,aku juga ga mau nyakiti dia dengan harapan kosong yang aku berikan.Hmm kalo memang begitu,kamu harus mulai menjaga jarak darinya sehingga dia tidak berharap banyak padamu lagi.
Pembicaraan sore itu membuatku berpikir sepanjang malam dan akhirnya aku berpikir apa salahnya kalo mencoba.Dit,sudah kupikirkan sepanjang malam dan aku memutuskan untuk memberimu kesempatan mendekatiku.Wow,makasih ya Jess,aku janji akan berusaha untuk membuatmu jatuh cinta kepadaku,aku ga akan pernah mengecewakanmu dan meninggalkanmu.
(saat menjadi panitia reuni kampus)
Jess,mungkin saat ini bukan saat yang romantis seperti yang kamu harapkan,tapi saat ini aku mau bilang kalo aku sayang sama kamu dan aku ingin kamu jadi pacarku,maukah kamu????Aku terdiam untuk sesaat,sepertinya usaha kerasku mulai membuahkan hasil,ya tiba-tiba saja hatiku berdegup dengan kencang dan aku merasa pipiku sudah seperti kepiting rebus yang merona merah,aku tak bisa berkata-kata lagi,dan aku hanya mengangguk.Kupikir aku mulai menyukainya.
Sepulang dari reuni,segaris lengkung di bibirku sepertinya terus terpampang,dan aroma-aroma kembang menghiasi hatiku.Inikah pertanda aku mulai jatuh cinta padanya???Ya aku akan berusaha memberi yang terbaik,hanya untuknya.
(seminggu....tak ada masalah)
(sebulan berlalu......Radit mulai sibuk dengan kegiatan kampusnya dan aku mulai kesepian.Dia yang biasanya selalu menelpon sekarang menjadi jarang,dan kami pun sering bertengkar.Sebenarnya yang menjadi masalah adalah kami butuh penyesuaian diri,dan aku selalu berusaha menunjukkan sikap \'ngambek\'ku padanya.Aku ga berpikir dengan 1 sifat itu,akan membuatku terhempas sendiri dalam penyesalan)
Jess,aku rasa lebih baik kita berteman saja,karena aku tidak mau terus bertanya-tanya apakah aku benar-benar mencintaimu.Jujur aku benci dengan sikapmu yang terlalu kekanak-kanakan,yang membuat kita tiada hari tanpa bertengkar.Aku capek Jess,setiap orang pun punya batas kesabaran.Kata-kata Radit barusan seperti petir di siang bolong,aku bahkan nyaris ga percaya dengan pendengaranku.Lebih dari 3 bulan yang lalu dia mengejarku dengan gigihnya,dan ketika aku memberikan kesempatan untuknya,berusaha keras untuk mulai mencintainya dan sekarang aku benar-benar tulus mencintainya,dia mencampakkanku begitu saja????Kenapa?kenapa?kenapa? terlalu banyak pertanyaan yang bahkan aku ga sanggup untuk memikirkannya.Aku bahkan memohon padamu untuk memperbaiki kesalahanku,hanya 1 kesempatan saja,karena selama ini kamu tidak pernah mengatakan apa yang tidak kamu sukai dariku,tapi,1 kesempatanpun tak kamu berikan.Bahkan dengan santainya kamu bilang kamu tidak mencintaiku lagi....
Masih kuingat kau sempat tersenyum dan memberikan lambaian perpisahan yang terakhir saat aku melangkah pergi karena gagal memohon 1 kesempatan darimu,tidakkah kamu berpikir bahwa kamu sungguh kejam???Dengan sisa-sisa tenaga yang ada,dan masih syok dengan semua kata-katamu,aku berusaha berjalan tertatih hingga tiba di kamar,hanya dengan wajah yang pucat pasi dan bahkan tak ada airmata.Aku mulai mendirikan tembok,dimana aku tidak merasakan apa-apa lagi,baik itu sakit,sedih,kecewa....
Masih tak percaya,aku bahkan belum pacaran 2 bulan denganmu.Secepat itu kamu bilang cinta padaku dan secepat itu kamu mencampakanku???????Padahal aku sudah mempersiapkan hadiah untuk Valentine bersamamu...Terkadang,hati yang dibuat terlalu sakit akan membuatmu mendirikan tembok yang kokoh dimana tidak ada yang bisa menghancurkannya bahkan oleh suatu kesedihan sekalipun,dan itu yang aku rasakan.Kemarin untuk pertama kalinya aku dan kamu bertemu,berpapasan dan kita hanya lewat begitu saja tanpa bertegur sapa.
Kejadian itu sudah hampir berlalu setahun yang lalu,awal-awalnya begitu sulit bagiku untuk terus melanjutkan hidupku,aku ga bisa membayangkan hidupku tanpamu,tapi sekarang aku sudah bisa menerima semuanya,dan aku hanya berharap kamu akan bahagia dengan pengganti diriku nanti.Semua yang telah berlalu,mengajarkanku banyak hal dan membuatku lebih dewasa.Pertama,Cinta tak harus memiliki,meskipun aku dan kamu sudah tak bersama lagi,aku masih mencintaimu seperti dulu,tapi aku tetap menerima kenyataan bahwa kamu mungkin memang lebih baik dengan orang lain,kamu akan lebih bahagia dibanding denganku.Kedua,cinta butuh keterbukaan.Apapun yang kita suka ataupun tidak suka,katakanlah sejujurnya pada pasanganmu,percayalah,dia akan bisa menerima kejujuranmu dan mencoba untuk memperbaikinya.Ketiga,cinta itu sabar dan setia.Tak peduli kamu sudah menyakiti sesakit apapun,cinta akan tetap ada dan takkan berubah.
Hari ini,tepat setahun yang lalu,ditempat ini gedung ini,aku berdiri seorang diri,mengenangmu.Aku hanya tersenyum membayangkan ekspresi wajahku yang tersipu malu dan begitu bahagia saat itu.Andai aku bisa kembali ke kejadian setahun yang lalu,tapi penyesalanpun takkan berguna.Penyesalahpun tak akan merubah apapun,dan aku hari ini seorang Jessica tetap berdiri sendiri.Aku menunggumu semalaman, masih ada sedikit harapan,berharap kamu ingat hari ini,tempat ini,tapi kamu tidak kunjung datang.Aku berjanji akan selalu datang setiap tahunnya ke tempat indah ini untu mengingat semua kisah kita.
Kini kembali aku harus bangun dari dunia lamunanku,kembali ke dunia nyata dimana aku harus hadapi semuanya.Banyak hal yang indah maupun buruk terjadi dalam hidupku,tapi semua yang kualami denganmu masih teringat sangat jelas,tak ada yang terlupakan,dan kini ku sadari kalau semua ini hanya bagian dari pahit manisnya hidup.Radit,terimakasih untuk semuanya,aku tak pernah membencimu,dan aku masih disini untukmu,aku masih mencintaimu seperti dulu,tak ada yang berubah,tak peduli sesadis apa kamu pernah meninggalkanku.Sepi hari-hariku disini tanpamu.Sekarang hanya ada aku,dan hanya ada sepenggal memori tentangmu....
Titik Terang Penantian Rina
“ Eh, katanya Ergi udah jadian sama Ana lho ! “. Tidak sengaja Rina mendengar percakapan tiga orang teman sekelasnya di taman sekolah.
Dada Rina terasa sesak seketika. Dengan lunglai Rina berjalan menuju kelasnya.
Ternyata kelas Rina tak kalah hebohnya ketika mendengar Ergi berpacaran dengan Ana. Hanya dua orang yang tak bergeming akan berita itu. Angga dan Rima, sahabat Rina.
“ Rin, kok baru datang ? “ Tanya Angga.
“ iya… tadi pagi bangunnya agak telat, abis tadi malem kerjain tugas.” Jawab Rina dengan suara yang agak sesak.
“ kamu habis nangis ya ? “ todong Rima.
Dengan seksama Angga juga ikut memperhatikan Rina.
“ Ya…bener, Rina habis nangis, karna matanya terlihat seperti bola golf, dan hidungnya juga merah.
Rina hanya tersenyum. Ia menarik napas panjang – panjang untuk mengurangi rasa sakit yang bersarang dalam hatinya.
“ lupain aja si Ergi….. masih banyak cowok ! “
“ dia gak pantes buat kamu, dia cuma bisa buat kamu nangis.
“ tidak ada seorang lelakipun yang layak mendapatkan air matamu. Lelaki yang layak mendapatkannya tidak akan pernah membuatmu menangis. “ ucap Rima agak emosi.
Jam istirahat tiba, Rina dan Rima berjalan menuju kantin.
“ Ma, aku sayang sama Dia, “ Rima memandang Rina dengan tatapan bingung.
“ maksud kamu apa ? “ Tanya Rima dengan wajah kaget.
“ iya aku sayang sama Ergi, “ jawab Rina.
Sejak SMP kita udah satu sekolah. Bahkan sekelas sampai kita lulus SMP.
Rima mencoba untuk memahami apa yang barusan di ucapkan oleh sahabatnya ini. Untuk beberapa menit mereka diam dengan pikiran masing – masing, sampai Rima memulai bersuara.
“ Terus kamu da bilang perasaan kamu ke Ergi ? “ tanya Rima dengan suara yang semakin tegas.
“ aku belum bilang perasaanku. Aku takut, ma.
Di satu sisi aku ingin bilang, tapi di sisi lain aku takut pertemanan ini rusak.
“ kenapa kamu mesti takut, Rin ? “ ujar Rima.
Kalau kamu memang sayang, cinta sama dia, kamu mesti bilang sama dia. Jadi dia bisa tahu perasaan kamu. Kamu juga gak bakal tersiksa kayak gini.
“ aku takut dia marah ! “ jawab Rina dengan lemas.
“ Rin, terkadang kejujuran itu manyakitkan. Tapi dengan kejujuran kita bisa dapat jawaban dari semua keraguan kita. ! “ Ucap Rima, memberi kekuatan untuk sahabatnya.
Memori Rina secara refleks kembali mengingat masa – masa tiga tahun lalu bersama Ergi. Menghabiskan waktu bersama – sama, meninggalkan banyak kenangan di hati Rina. Ergi adalah sosok yang menarik perhatiannya, sosok yang tak terlupakan hingga saat ini.
Sekilas pandangan Rina tertuju pada satu pemandangan. Pemandangan yang sebenarnya tak ingin dia lihat. Ergi melintas di koridor depan kelasnya bersama Ana, pacarnya.
Dan tanpa ia bisa bendung lagi, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya mengalir juga. Angga dan Rima yang melihat sahabatnya langsung menghela napasnya, hampir bersamaan. Mereka bisa merasakan apa yang Rina rasakan. Sakit, sedih, kecewa, marah, semua rasa itu jadi satu di hatinya.
Pulang sekolah
Angga mengajak Rina ke sebuah cafe dekat sekolah.
“ Rin, kamu suka es krim kan ? “ tanya Angga.
Rina hanya mengangguk, saat ini dia sedang tidak mood untuk berbicara.
“ kamu tau Rin, apa alasan aku ngajak kamu ke sini ? “ ujar Angga setelah dia kembali dari memesan es krim.
Rina mengeleng pelan.
“ memangnya kenapa ? “ tanya Rina langsung.
“ lupakan Ergi, Rin, “ katanya.
“ lupain dia, cowok kayak gitu nggak cocok buat kamu ! “ tambahnya.
Suara Angga terdengar agak emosi.
“ tiga tahun itu bukan waktu yang sebentar, Ngga ! ” ujar Rina.
“ ya…. tiga tahun lebih bersama Ergi bukanlah waktu yang singkat, “ ucap Rina dengan suara pelan.
“ aku pengen banget ngelupain Ergi, Ngga ! tapi aku nggak bisa. Semakin aku berusaha buat ngelupain dia, aku makin ingat apa yang dulu aku pernah lalui bersama saat SMP.
“ sudahlah ! Ngga, aku nggak mau ngomongin masalah itu di sini, “ tegas Rina.
“ oce… aku nggak akan ngomong masalah itu lagi, “ kata Angga sambil mengangguk.
“ tapi aku punya pertanyaan buat kamu, “ tambah Angga.
Angga terlihat agak gugup dan membuat Rina bingung.
“ ada apa sih ? “ tanya Rina.
Dari nada bicaranya terlihat kalau Rina sangat penasaran. Angga menarik napas panjang sebelum akhirnya ia berkata,
“ boleh nggak aku gantikan posisi Ergi di hati kamu ? “ dan kalimat itu sontak membuat Rina menjatuhkan es krim dan jatuh mengenai baju Angga.
“ aduh, maaf Ngga, aku gak sengaja ! “ ucap Rina sambil membersihkan seragam Angga yang ternoda olehnya.
“ udah Rin, nggak apa – apa, gimana aku serius sama ucapanku tadi, aku nunggu jawaban kamu. “ ucapan Angga membuat Rina berhenti membersihkan baju Angga.
Rina duduk sambil terdiam untuk beberapa saat. Ia masih tak percaya dengan apa yang di ungkapkan Angga tadi.
“ tapi, Ngga….” ucap Rina terbata – bata, ia masih sangat bingung.
“ aku tahu kalau aku nggak sesempurnah Ergi, tapi aku sayang sama kamu Rin, sejak pertama masuk SMA. “ jelas Angga.
“ sejak pertama masuk SMA ? “ tanya ulang Rina.
Angga tersenyum sambil mengangguk.
“ waktu itu aku liat kamu saat upacara, dan saat itu aku langsung suka, “ jawab Angga seraya mengenang kejadian dua tahun lalu.
Rina tidak dapat mempercayainya, “ dua tahun “. Dua tahun lamanya Angga memendam perasaannya.
“ gimana Rin ? “ tanya Angga sekali lagi.
Rina menghembuskan napasnya secara perlahan.
“ makasih Angga, kalau kamu suka sama aku. Tapi aku masih belum tahu gimana perasaan aku. Aku masih bimbang Ngga, “ jawab Rina.
“ kamu masih sayang sama Ergi ? “ Angga memastikan perasaan Rina.
Rina mengangkat bahunya.
“ nggak tahu deh Ngga. Aku juga nggak ngerti. “
“ ok… aku ngerti Rin, tapi…. Aku boleh kan nunggu kamu sampai perasaan kamu sudah tenang ? “ pinta Angga.
Rina terpana mendengar ucapan Angga.
“ aku bersedia nunggu kamu, sampai kamu bisa lupain Ergi. “
“ aku bakal nunggu kamu sampai kamu bisa buka hati buat aku. “ ucap Angga sambil tersenyum manis.
Tiba – tiba dada Rina terasa hangat mendengar ucapan Angga. Rina tersenyum mendengar ucapan Angga.
Untuk beberapa menit mereka diam dengan pikiran masing – masing sampai,
“ woi…… kumpul nggak ngajak – ngajak aku ya ! “ Rina dan Angga sontak kaget mendengar teriakan cempreng yang sudah akrab di telinga mereka.
Rima langsung menoleh ke arah Rina.
“ eh, ngomong – ngomong ada yang aneh ni. Wajah Rina ceriah banget, nggak kayak biasanya, wah….. ada apa nih ? “ tanya Rima dengan tatapan tajam ke arah Rina dan Angga. Dan dengan kompak mereka berdua menjawab,
“ nggak ada apa – apa ! “
Rima makin curiga, apalagi melihat wajah kedua sahabatnya yang memerah.
“ ehem – ehem, kayaknya bentar lagi aku bakal dapet teraktiran nih ! Asyik…“ gumam Rima. Dan itu membuat Rina menunduk malu.
Namun walaupun begitu Rina merasa bahagia hari ini. Rina juga yakin hari – hari di depannya pasti kan lebih menyenangkan. “ hmm… punya sahabat yang baik dan punya seseorang yang dengan tulus menyayangi kita. Apalagi coba yang kurang dalam hidup ini….., ketimbang mengharap sesuatu yang tak pasti !
Aku mulai tahu jawaban atas penantian panjangku selama ini, untuk satu orang “ Ergi “.
The end
Dada Rina terasa sesak seketika. Dengan lunglai Rina berjalan menuju kelasnya.
Ternyata kelas Rina tak kalah hebohnya ketika mendengar Ergi berpacaran dengan Ana. Hanya dua orang yang tak bergeming akan berita itu. Angga dan Rima, sahabat Rina.
“ Rin, kok baru datang ? “ Tanya Angga.
“ iya… tadi pagi bangunnya agak telat, abis tadi malem kerjain tugas.” Jawab Rina dengan suara yang agak sesak.
“ kamu habis nangis ya ? “ todong Rima.
Dengan seksama Angga juga ikut memperhatikan Rina.
“ Ya…bener, Rina habis nangis, karna matanya terlihat seperti bola golf, dan hidungnya juga merah.
Rina hanya tersenyum. Ia menarik napas panjang – panjang untuk mengurangi rasa sakit yang bersarang dalam hatinya.
“ lupain aja si Ergi….. masih banyak cowok ! “
“ dia gak pantes buat kamu, dia cuma bisa buat kamu nangis.
“ tidak ada seorang lelakipun yang layak mendapatkan air matamu. Lelaki yang layak mendapatkannya tidak akan pernah membuatmu menangis. “ ucap Rima agak emosi.
Jam istirahat tiba, Rina dan Rima berjalan menuju kantin.
“ Ma, aku sayang sama Dia, “ Rima memandang Rina dengan tatapan bingung.
“ maksud kamu apa ? “ Tanya Rima dengan wajah kaget.
“ iya aku sayang sama Ergi, “ jawab Rina.
Sejak SMP kita udah satu sekolah. Bahkan sekelas sampai kita lulus SMP.
Rima mencoba untuk memahami apa yang barusan di ucapkan oleh sahabatnya ini. Untuk beberapa menit mereka diam dengan pikiran masing – masing, sampai Rima memulai bersuara.
“ Terus kamu da bilang perasaan kamu ke Ergi ? “ tanya Rima dengan suara yang semakin tegas.
“ aku belum bilang perasaanku. Aku takut, ma.
Di satu sisi aku ingin bilang, tapi di sisi lain aku takut pertemanan ini rusak.
“ kenapa kamu mesti takut, Rin ? “ ujar Rima.
Kalau kamu memang sayang, cinta sama dia, kamu mesti bilang sama dia. Jadi dia bisa tahu perasaan kamu. Kamu juga gak bakal tersiksa kayak gini.
“ aku takut dia marah ! “ jawab Rina dengan lemas.
“ Rin, terkadang kejujuran itu manyakitkan. Tapi dengan kejujuran kita bisa dapat jawaban dari semua keraguan kita. ! “ Ucap Rima, memberi kekuatan untuk sahabatnya.
Memori Rina secara refleks kembali mengingat masa – masa tiga tahun lalu bersama Ergi. Menghabiskan waktu bersama – sama, meninggalkan banyak kenangan di hati Rina. Ergi adalah sosok yang menarik perhatiannya, sosok yang tak terlupakan hingga saat ini.
Sekilas pandangan Rina tertuju pada satu pemandangan. Pemandangan yang sebenarnya tak ingin dia lihat. Ergi melintas di koridor depan kelasnya bersama Ana, pacarnya.
Dan tanpa ia bisa bendung lagi, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya mengalir juga. Angga dan Rima yang melihat sahabatnya langsung menghela napasnya, hampir bersamaan. Mereka bisa merasakan apa yang Rina rasakan. Sakit, sedih, kecewa, marah, semua rasa itu jadi satu di hatinya.
Pulang sekolah
Angga mengajak Rina ke sebuah cafe dekat sekolah.
“ Rin, kamu suka es krim kan ? “ tanya Angga.
Rina hanya mengangguk, saat ini dia sedang tidak mood untuk berbicara.
“ kamu tau Rin, apa alasan aku ngajak kamu ke sini ? “ ujar Angga setelah dia kembali dari memesan es krim.
Rina mengeleng pelan.
“ memangnya kenapa ? “ tanya Rina langsung.
“ lupakan Ergi, Rin, “ katanya.
“ lupain dia, cowok kayak gitu nggak cocok buat kamu ! “ tambahnya.
Suara Angga terdengar agak emosi.
“ tiga tahun itu bukan waktu yang sebentar, Ngga ! ” ujar Rina.
“ ya…. tiga tahun lebih bersama Ergi bukanlah waktu yang singkat, “ ucap Rina dengan suara pelan.
“ aku pengen banget ngelupain Ergi, Ngga ! tapi aku nggak bisa. Semakin aku berusaha buat ngelupain dia, aku makin ingat apa yang dulu aku pernah lalui bersama saat SMP.
“ sudahlah ! Ngga, aku nggak mau ngomongin masalah itu di sini, “ tegas Rina.
“ oce… aku nggak akan ngomong masalah itu lagi, “ kata Angga sambil mengangguk.
“ tapi aku punya pertanyaan buat kamu, “ tambah Angga.
Angga terlihat agak gugup dan membuat Rina bingung.
“ ada apa sih ? “ tanya Rina.
Dari nada bicaranya terlihat kalau Rina sangat penasaran. Angga menarik napas panjang sebelum akhirnya ia berkata,
“ boleh nggak aku gantikan posisi Ergi di hati kamu ? “ dan kalimat itu sontak membuat Rina menjatuhkan es krim dan jatuh mengenai baju Angga.
“ aduh, maaf Ngga, aku gak sengaja ! “ ucap Rina sambil membersihkan seragam Angga yang ternoda olehnya.
“ udah Rin, nggak apa – apa, gimana aku serius sama ucapanku tadi, aku nunggu jawaban kamu. “ ucapan Angga membuat Rina berhenti membersihkan baju Angga.
Rina duduk sambil terdiam untuk beberapa saat. Ia masih tak percaya dengan apa yang di ungkapkan Angga tadi.
“ tapi, Ngga….” ucap Rina terbata – bata, ia masih sangat bingung.
“ aku tahu kalau aku nggak sesempurnah Ergi, tapi aku sayang sama kamu Rin, sejak pertama masuk SMA. “ jelas Angga.
“ sejak pertama masuk SMA ? “ tanya ulang Rina.
Angga tersenyum sambil mengangguk.
“ waktu itu aku liat kamu saat upacara, dan saat itu aku langsung suka, “ jawab Angga seraya mengenang kejadian dua tahun lalu.
Rina tidak dapat mempercayainya, “ dua tahun “. Dua tahun lamanya Angga memendam perasaannya.
“ gimana Rin ? “ tanya Angga sekali lagi.
Rina menghembuskan napasnya secara perlahan.
“ makasih Angga, kalau kamu suka sama aku. Tapi aku masih belum tahu gimana perasaan aku. Aku masih bimbang Ngga, “ jawab Rina.
“ kamu masih sayang sama Ergi ? “ Angga memastikan perasaan Rina.
Rina mengangkat bahunya.
“ nggak tahu deh Ngga. Aku juga nggak ngerti. “
“ ok… aku ngerti Rin, tapi…. Aku boleh kan nunggu kamu sampai perasaan kamu sudah tenang ? “ pinta Angga.
Rina terpana mendengar ucapan Angga.
“ aku bersedia nunggu kamu, sampai kamu bisa lupain Ergi. “
“ aku bakal nunggu kamu sampai kamu bisa buka hati buat aku. “ ucap Angga sambil tersenyum manis.
Tiba – tiba dada Rina terasa hangat mendengar ucapan Angga. Rina tersenyum mendengar ucapan Angga.
Untuk beberapa menit mereka diam dengan pikiran masing – masing sampai,
“ woi…… kumpul nggak ngajak – ngajak aku ya ! “ Rina dan Angga sontak kaget mendengar teriakan cempreng yang sudah akrab di telinga mereka.
Rima langsung menoleh ke arah Rina.
“ eh, ngomong – ngomong ada yang aneh ni. Wajah Rina ceriah banget, nggak kayak biasanya, wah….. ada apa nih ? “ tanya Rima dengan tatapan tajam ke arah Rina dan Angga. Dan dengan kompak mereka berdua menjawab,
“ nggak ada apa – apa ! “
Rima makin curiga, apalagi melihat wajah kedua sahabatnya yang memerah.
“ ehem – ehem, kayaknya bentar lagi aku bakal dapet teraktiran nih ! Asyik…“ gumam Rima. Dan itu membuat Rina menunduk malu.
Namun walaupun begitu Rina merasa bahagia hari ini. Rina juga yakin hari – hari di depannya pasti kan lebih menyenangkan. “ hmm… punya sahabat yang baik dan punya seseorang yang dengan tulus menyayangi kita. Apalagi coba yang kurang dalam hidup ini….., ketimbang mengharap sesuatu yang tak pasti !
Aku mulai tahu jawaban atas penantian panjangku selama ini, untuk satu orang “ Ergi “.
The end
Langganan:
Postingan (Atom)